Tampilkan postingan dengan label puisi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label puisi. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 02 April 2011

puisi Mansyur samin

TENTANG HARI TUA
...........Buat Kirdjomuljo
Mati yang tak pernah pasrah dari puisi
Terlempar kata mengatap pada jaga
Alir yang tak pernah pisah dari hati
Mengantar raba tebar dera peristiwa

Atau kita bukan apa-apa dalam bercinta
Sayap rahasia agak ringan lewat bicara
Di tebaran angin dan ratapan ini
Nyanyian mimpi penat mendaki
Lalu aku mati entah di mana
Satu-satunya pesan, tanya orang Negara
Darah jiwa telah genap cerita
Bagi dunia kita cuma lajang kembara
Dari selubung biru kita beranjak pisah
Ketetapan haritua rendah terpasa duka
Bergelinding alir puisi dan tanah air
Kuisi kaca ini meletakkan tapal setia akhir
Mati yang tak pernah pasrah dari puisi
Terlempar kata mengatap pada jaga.


Perawan
Sesegar ini malam bersih
Sekeping jendela masih terbuka
Hati perawan di lengkung sunyinya
Bertahun surat tak datang
Menyubur rindu membagi kenang
Tapi jejaka tak kunjung pulang
Jejaka anak terbuang
Pencari larut, kutukan bumi
Hasrat sekampung lebih baik ia mati
Perawan menanti
Kekeringan kasih
Di teluk hati
Jejaka makin kerasan di tanah Jawa
Hidupnya terkubur dalam sajak

puisi Toeti Heraty

KE PELABUHAN
Karya Toeti Heraty
benarkah setiap senja
matahari masih terbenam juga
kasihku?
pernah kupelajari, sudah sekian waktu
yang lalu, bahwa bulan mengitari

dunia, dan dunia matahari –
bulan, yang bagai mangga kemuning
menyandarkan diri pada awan-awan
yang bergerigi
dan matahari terbakar merajai hati
sewaktu mobil menyusur kali dan kali
mengalir ke laut, lautan luas –
benarkah setiap senja?
karena sebelah kiri hanya tampak
nyala jingga langit merenggut-renggut lambaian bendera
dan cakrawala dirembeti gubuk-gubuk, rapuh dan kelabu
benarkah begitu; bahwa
suatu saat matahari dan lautan
akan bersentuhan, dan berjanji
bagai kedahsyatan yang menghilang
dan akan kembali lagi

puisi Piek Ardijanto Soeprijadi

LAGU TANAH AIRKU
Karya :Piek Ardijanto Soeprijadi
Sudahkah kau dengar lagu berjuta nada
Lagu tanah airku yang menggema di seluruh dunia
Dengarkanlah merdu suaranya
Dengarkanlah indah suaranya

Masinis melagu bersama gemuruh mesin
tukang kayu berdendang ditingkah gergaji makan papan
tukang batu bernyanyi bersama semen memeluk bata
nakoda senandung menyanjung ombak menelan haluan
tukang sepatu berlagu mengiring palu menghantam paku
penebang pohon berdendang bersama gema kapak dalam hutan
petani nembang di atas bajak berjemur di lumpur

betapa merdu lagu tanah airku
meletus nyanyi di pagi hari
menegang di rembang siang
melenyap di senja senyap

bila malam mengembang ibu nembang
tidurlah berlepas lelah anakku sayang
lampu bumi bawa mimpi damai dunia
esok masih ada kerja untuk nusa dan bangsa

puisi Ramadhan KH

Tanah Kelahiran
Seruling di pasir ipis, merdu
Antara gundukan pohon pina
Tembang menggema di dua kaki,
Burangrang – Tangkubanperahu

Jamrut di pucuk-pucuk,
Jamrut di air tipis menurun.

Membelit tangga di tanah merah
Dikenal gadis-gadis dari bukit
Nyanyikan kentang sudah digali,
Kenakan kebaya ke pewayangan.

Jamrut di pucuk-pucuk,
Jamrut dihati gadis menurun.


Nyanyian Untuk yang dilupakan
Tuhan yang menciptakan seni dan bumi,
air dan udara dan api
menciptakan semua kita yang ada,
selalu hormat dan cinta padamu.
Langit dan dedaunan gemelepar,
bulan danbintang hidup berkhitmat selalu
bagimu dan bagimu dan bagimu
Sebanyak daunan digantung di dahan pohonan
untuk memeriahkan istana yang asing dan tetap asing bagimu
meja bangket dan kemwahan dibuka,
berbatasan dengan lingkaran dunia yang pahit, duniamu.
Bulan dn bintang yang setia dan tetap setia padamu,
meredupkan lampu-lampu yang banyak dusta dan penipuan.
Namamu tergoreskan di setiap rangka tulang bangunan dan keuntungan
kendatipun tidak dicanangkan, malahan dilupakan.
Kaulah sebenarnya yang lahirkan kemerdekaan,
tanpa idamkan taman dan tugu kemerdekaan.
Kaulah sebenarnya yang bangkitkan pembebasan.
Butir padi, garam dan perlindungan
ladang daratan, air dan kekuatan,
adalah kepunyaan dan kelahiranmu.
Warisanmu adalah sungai, tanaman,
warisanmu adalah tiap tegukan dan santapan.
Kau adalah kapten barisan yang selalu ada di depan
untuk kemerdekaan dan kemanusiaan.
Kau adalah pertahanan utama yang selalu pantang menyerah
untuk pembebasan dan keagungan.
Pahlawan kemerdekaan, kaulah satu-satunya pahlawan kemerdekaan,
dan tiada yang lainyang lebih patut pakaikan mahlota kemerdekaan !
pejuang perdamaian, kaulah satu-satunya pejuang perdamaian,
dan tiada yang lain yang lebih patut kenakan bintang perdamaian.
Waktu pestol pertama meletus untuk kemerdekaan,
adalah pestol jantungmu yang ditembakkan.
Waktu bendera pertama berkibar untuk pembebasan,
adalah bendera semangatmu yang diacungkan.
Waktu kurban pertama diminta untuk keagungan,
adalah nyawamu yang pertama dikurbankan.
Kau adalah alas dan puncak semua pujian dan pujaan;
Sejak fajar sampai jadi sasaran penipuan dan pencekikan

puisi Emha Ainun Najib

BEGITU ENGKAU BERSUJUD
Oleh : Emha Ainun Najib
Begitu engakau bersujud, terbangunlah ruang
yang kau tempati itu menjadi sebuah masjid
Setiap kali engkau bersujud, setiap kali
pula telah engkau dirikan masjid
Wahai, betapa menakjubkan, berapa ribu masjid

telah kau bengun selama hidupmu?
Tak terbilang jumlahnya, menara masjidmu
meninggi, menembus langit, memasuki alam makrifat
Setiap gedung, rumah, bilik atau tanah, seketika
bernama masjid, begitu engkau tempati untuk bersujud
Setiap lembar rupiah yang kau sodorkan kepada
ridha Tuhan, menjelma jadi sajadah kemuliaan
Setiap butir beras yang kau tanak dan kau tuangkan
ke piring ke-ilahi-an, menjadi se-rakaat sembahyang
Dan setiap tetes air yang kau taburkan untuk
cinta kasih ke-Tuhan-an, lahir menjadi kumandang suara adzan
Kalau engkau bawa badanmu bersujud, engkaulah masjid
Kalau engkau bawa matamu memandang yang dipandang
Allah, engkaulah kiblat
Kalau engkau pandang telingamu mendengar yang didengar Allah, engkaulah tilawah suci
Dan kalau derakkan hatimu mencintai yang dicintai Allah, engkaulah ayatullah
Ilmu pengetahuan bersujud, pekerjaanmu bersujud,
karirmu bersujud, rumah tanggamu bersujud, sepi
dan ramaimu bersujud, duka deritamu bersujud
menjadilah engkau masjid



Antara Dua Kota
di yogya aku lelap tertidur
angin di sisiku mendengkur
seluruh kota pun bagai dalam kubur
pohon-pohon semua mengantuk
di sini kamu harus belajar berlatih
tetap hidup sambil mengantuk
kemanakah harus kuhadapkan muka
agar seimbang antara tidur dan jaga ?
Jakrta menghardik nasibku
melecut menghantam pundakku
tiada ruang bagi diamku
matahari memelototiku
bising suaranya mencampakkanku
jatuh bergelut debu
kemanakah harus juhadapkan muka
agar seimbang antara tidur dan jaga
surabaya seperti ditengahnya
tak tidur seperti kerbau tua
tak juga membelalakkan mata
tetapi di sana ada kasihku
yang hilang kembangnya
jika aku mendekatinya
kemanakah haru kuhadapkan muka
agar seimbang antara tidur dan jaga ?

Kamis, 31 Maret 2011

puisi eka budianto

POTRET TUKANG SAMPAH
Dengan perut lapar dan harapan kosong
Aku menelanmu, Jakarta
Kukunyah-kunyah sebuah mikrolet tua
Onggokan sampah telah jadi menu utamaku
Roda gerobak adalah sendok dan garpu
Tuhan, jangan beri aku uang

Baunya lebih kecut ketimbang sampahku
Mendingan di bayang-bayang pohon mangga
Aku menyiapkan cerita untuk anak cucu
Untukmu, Jakarta
Untuk pengemudi bajaj, penyalur genteng
Dan pedagang kakilima
Jakarta, seribu tahun genap sudah
Engkau masih compang-camping, luka-luka
Tangis bayi dan jerit wanita di mana-mana
Bianglala di atas perkampungan
Bikin cinta terbakar dalam perut lapar

puisi toto sudarto bachtiar

Gadis Peminta-minta
Setiap kita bertemu, gadis kecil berkaleng kecil
Senyummu terlalu kekal untuk kenal duka
Tengadah padaku pada bulan merah jambu
Tapi kotaku jadi hilang, tanpa jiwa

Ingin aku ikut, gadis kecil berkaleng kecil
Pulang kebawah jembatan yang melulur sosok
Hidup dari kehidupan angan-angan yang gemerlap
Gembira dari kemayaan riang.

Duniamu yang lebih tinggi dari menara katedral
Melintas-lintas diatas air kotor, tapi yang begitu kauhafal
Jiwa begitu murni, terlalu murni
Untuk dapat membagi dukaku.

Kalau kau mati, gadis kecil berkaleng kecil
Bulan di atas itu tak ada yang punya
Dan kotaku, oh kotaku
Hidupnya tak lagi punya tanda.


Ibu kota Senja
Penghidupan sehari-hari, kehidupan sehari-hari
Antara kuli-kuli berdaki dan perempuan telanjang mandi
Di sungai kesayangan, o, kota kekasih
Klakson oto dan lonceng trem saing-menyaingi
Udara menekan berat di atas jalan panjang berkelokan
Gedung-gedung dan kepala mengabur dalam senja
Mengarungi dan layung-layung membara di langit barat daya
0, kota kekasih
Tekankan aku pada pusat hatimu
Di tengah-tengah kesibukanmu dan penderitaanmu
Aku seperti mimpi, bulan putih di lautan awan belia
Sumber-sumber yang murni terpendam
Senantiasa diselaputi bumi keabuan
Dan tangan serta kata menahan napas lepas bebas
Menunggu waktu mengangkut maut
Aku tiada tahu apa-apa, di luar yang sederhana
Nyanyian-nyanyian kesenduan yang bercanda kesedihan
Menunggu waktu keteduhan terlanggar di pintu dinihari
Serta keabadian mimpi-mimpi manusia
Klakson dan lonceng bunyi bergiliran
Dalam penghidupan sehari-hari, kehidupan sehari-hari
Antara kuli-kuli yang kembali
Dan perempuan mendaki tepi sungai kesayangan
Serta anak-anak berenangan tertawa tak berdosa
Di bawah bayangan samar istana kejang
Layung-layung senja melambung hilang
Dalam hitam malam menjulur tergesa
Sumber-sumber murni menetap terpendam
Senantiasa diselaputi bumi keabuan
Serta senjata dan tangan menahan napas lepas bebas
0, kota kekasih setelah senja
Kota kediamanku, kota kerinduanku

puisi Hamid Jabbar

TELEPON
Sajak Hamid Jabbar

yang dia itu siap deringkan sekeranjang kring panjang
kriing!
siaplah.

barangkali itulah kring penghabisan yang akan menghabiskan telingamu jadi kaku dan tak ku-asa lagi menangkap sealit pun suara jarum jatuh yang menancap di daun telingamu...
kriing!
jangan terburu.
barangkali itulah kabar kedatangan dia yang ka-mu tunggu, atau bisa jadi ucapan maaf dari mu-suh di balik kelambu atau lagi-lagi salah sam-bung seperti kemaren dulu...
kriing!
halo, di sini saya, di situ siapa?
nah, tebaklah....
halo! di sini saya, di situ siapa?
nan inilah mautmu...
apa? kurang jelas!
dengarkan: m tambah a tambah u tambah t
maut,milikmu, tolol...
ohh?
nah, jangan gugup
ba..., baiklah, selamat siang
selamat petang!
dan..., dan apa kabar?
dan tunggu aku di situ
dan jangan lupa siapkan sepatumu
dan sebentar lagi aku siap di sisimu
dan kemudian aku siap di itumu
dan akhirnya aku kirim kamu ke sesuatu!
nah, jelas bukan?
ya.. ya.., sebentar ya...
ya, tak usah repot-repot
sebentar, sebentar saja...
yak! sebentar lagi!
klaak! yang diam itu telah bicara padamu:

puisi afrizal malna

PELAYARAN TUHAN
Dalam orang tak bertuhan dalam orang tak bertuhan
aku berlayar dalam tubuh tubuh sepi
terdaging di puncak puncak kediaman hening
mengeras dalam hujan hujan panjang
O, tuhan berlaut dalam keheningan nisu

pada kapal kapal kaku
bisik bisik menjauh
kata yang mengeras dalam makna
aku mengental dalam tarian sinarmu
mabok lautanmu - samudra diri
melaju
melaju kaku
ke kota kota sepi
semua tak bicara dalam sujud abadi:
diri yang terusir darimu
jadi laut tak bertepi

puisi Kirdjomuljo

ALBERT MONGINSIDI
Karya : Kirdjomuljo
Darahmu tak kutahu saat menetes, tak kutahu
Tetapi jariku kurasa membasah
Hilang seorang yang berhak dikenang
Wajahmu tak kutahu saat istirah

Tetapi kurasa menatapku
Datang seorang yang berhak mendapatkan setia
Albert betapa kau masih remaja
Tetapi dari segala yang tidak kutahu
Satu hal mengikat adamu dan adaku
Kau melawan dan mencintai yang berhak digenggam
Kuburmu tak pernah kutahu
Tetapi kusedia tempat bagimu dalam hatiku
Dan seuntai karangan bunga yang kekal
Kau telah memilih jalan terbaik
Dari segenap kematian yang bertanda
Dari segenap kehidupan yang berhak dicintai

puisi slamet sukirnanto

Layang-layang Milikku
Layang-layang milikku, kumanjakan kau
Membubung di langit biru
Di alam raya bersama burung-burung yang bebas
Lihatlah dari sana, negeri-negeri yang jauh

Adakah negeri-negeri bebas yang angkuh?
Satu pesan yang kusampaikan dari bumi ini
Janganlah meninggalkan daku, kemudian kau pergi
Sebab jarak antara kita akan semakin jauh
Di kota ini aku sendiri dengan pijar nasib.
Layang-layang milikku, Kumanjakan kau
Membubung di langit biru
Sampaikan Salam : hidup teguh di sini
Nyanyian bumi dalam wujud puisi.

puisi leon agusta

DOA DALAM KABUT
Suatu ketika, akan ada yang siuman
Mungkin tak semua mati jadi korban kegilaan
Pohon dan daunan masih akan saling berbisik:

Jangan sampai mereka tak melihat cahaya
Jangan sampai mereka tak mendengar suara

Para pertapa sudah menduga, dari awal prahara
Sebuah akhir yang pedih sudah menunggu
Menyita waktu menjemput bencana baru

Suatu ketika, akan ada yang siuman
Mungkin tak semua mati jadi korban kegilaan
Ada geliat dari tanah merayap ke atas batu
Bagai bayi mencari ibu karena merasa mencium susu
Bayi yang disisakan bencana, busuknya dunia

Fajar baru akan bermula dari senyum sang bayi
Orangtuanya mati setelah melahirkannya
Menelan api benci yang dimuntahkan senapan

Tuhan
Berilah keajaiban, tumbuhkan susu pada batu
Selimut hangat dari lumut bagi sang bayi
Berikan pula pada orang-orang berbedil
Keagungan cinta dalam membaca Manusia
Ajari mereka berjalan dengan peta warisan para nabi
Perkenankanlah.


ODE BUAT PROKLAMATOR

Bagi negeriku, bermimpi di bawah bayangan burung garud
Bertahun setelah kepergiannya kurindukan dia kembali
Dengan gelombang semangat halilintar dilahirkannya sebuah
negeri; dalam lumpur dan lumut, dengan api menyapu kelam
menjadi untaian permata hijau di bentangan cahaya abadi; yang
senantiasa membuatnya tak pernah berhenti bermimpi; menguak
kabut mendung, menerjang benteng demi benteng
membalikkan arah topan, menjelmakan impian demi impian
Dengan seorang sahabatnya, mereka tandatangani naskah itu !
Mereka memancang tiang bendera, merobah nama pada peta, berjaga
membacakan sejarah, mengganti bahasa pada buku. Lalu dia meniup
terompet dengan selaksa nada kebangkitan sukma
Kini kita ikut membubuhkan nama di atas bengkalainya;
meruntuhkan sambil mencari, daftar mimpi membelit bulan
Perang saudara mengundang musnah, dendam tidur di hutan-hutan,
di sawah terbuka yang sakti
Kata berpasir di bibir pantai hitam
dan oh, lidahku yang terjepit, buih lenyap di laut bisu
derap suara yang gempita cuma bertahan atau menerkam
Ya, walau tak mudah, kurindukan semangatnya menyanyi kembali
bersama gemuruh cinta yang membangunkan sejuta rajawali
Tak mengelak dalam bercumbu, biar di ranjang bara membatu
Tak berdalih pada kekasih, biar berbisa perih di rabu
Berlapis cemas menggunung sesal mutiara matanya tak pudar

puisi nasjah djamin

Pengusi
Jalan, jalan ….. ! Berapa puluh hari sudah
kau jalan nak Sri ? Hujan panas silih berganti !
Jalan yang panjang buruk berbatu
ini masih panjang
dari desa ke desa, di sawah dan bukit tinggi.

“Bu…..bu ! kaki Sri sakit, bengkak. Ah, sakit !
Air mata memercik mata yang bening bersih,
Ibu senyum getir, bapa kuat mendukung….
“Diam Sri, diam ! Kita pergi menuju
Bung Karno….!
……………………………………………
Kota telah hancur, tapak kaki ganas kejam
sudah menghentak-hentak di sana
orang-orang lemah
dan lembu-lembu sewaan jadi raja alat penindas;
kemerdekaan dan keadilan remuk diinjak-injak !
Orang-orang yang tak tahan diludah-ludah hina
menyingkir membawa pakaian lekat di badan,
tinggal rumah, halaman dan segala yang dicintai
Kaki hancur bengkak, ditongkat terbata-bata,
perih sengsaraikut melekat sepanjang jalan :
” Diam Sri, diam 1 Kita pergi menuju
Bung Karno…..!
Sepanjang siang malam terlunta-lunta
Diterik bakaran panas, uyup direndam hujan,
iringan kafilah ini mengalir terus, sebagai
jemaah menuju Tanah Suci, melepas jeritan
jiwa yang diperkosa, dan isak-sak sedu sedan,
mendongak rindu hawa yang merdeka dan adil !

puisi umar kayam

INILAH AKU
Datang melangkah menghadapi mati…….
Tidak gentar menerima mati…
Walaupun beribu dugaan menempuh mati…..
Aku tetap, Tetap mati….

Inilah aku di ajal menanti….
Walaupun menangis tetap hadir Mati…..
Melari diri jauh dariNya tetap mati……
Dekat dariNya adakah selamat tidak mati….

Setiap lorong di tembus takut mati…..
Sembunyi diri lari mati…
Adakah ini penyudah manusia nanti….
Akan pergi jauh berjumpa Illahi….
Jumpa dengan kebenaran yang hakiki…..
Atau berjumpa dengan kejahilan menempah api….

Itulah aku yang menempuh mati…..
Saban hari sembunyi diri…..
Dikala ini tidak lagi…..
Kerana aku tahu Allah menyayangi…..
Setiap hambanya yang ingin mati….
Agar terus kembali….
Dekap peluk erat di sanubari…..
Muhammad mengajar aku untuk berani….
Menempah maut diawal usia untuk mati

Rabu, 30 Maret 2011

puisi Prof. Dr. Kuntowijoyo

MUSIUM PERJUANGAN
Susunan batu yang bulat bentuknya
Berdiri kukuh menjaga senapan tua
Peluru menggeletak di atas meja
Menanti putusan pengunjungnya
Aku tahu sudah, di dalamnya
Tersimpan darah dan air mata kekasih
Aku tahu sudah, di bawahnya
Terkubur kenangan dan impian
Aku tahu sudah, suatu kali
Ibu-ibu direnggut cintanya
Dan tak pernah kembali
Bukalah tutupnya
Senapan akan kembali berbunyi
Meneriakkan semboyan
Merdeka atau mati
Ingatlah, sesudah sebuah perang
Selalu pertempuran yang baru
Melawan dirimu.


Kupu-Kupu
Keahlian kupu-kupu
Menggugurkan kuning sayapnya
Menenun jaring-jaring halus
Tinggal di dalamnya
Mendengarkan pohon bersemi.
Yang berubah warna
Hanya sayap kupu-kupu. Kemanakah warna-warna?
Karena kuning adalah bulan, ia tinggal di sana
Menanti hari terang. Kadang-kadang hinggap
Di wajah perempuan. Lalu para tetangga
Berbisik: gadis kecil sudah perawan
Ya Tuhan.
Karena kupu-kupu tinggal di sarang
Bunga-bunga berkembang!

puisi Goenawan Soesatyo Mohamad

SENJAPUN KECIL, KOTAPUN JADI PUTIH


Sejapun jadi kecil
Kotapun jadi putih
Di subway
Aku tak tahu saatpun sampai
Ketika berayun musim
Dari sayap langit yang beku

Ketika burung-burung, di rumput dingin
Terhenti mempermainkan waktu
Ketika kita berdiri sunyi
Pada dinding biru ini
Menghitung ketidak-pastian dan bahagia
Menunggu seluruh usia
Jangan Lagi Engkau Berdiri
Jangan lagi engkau berdiri
Di jendela-jendela sunyi dan kelam kali
Jangan lagi engkau tak mengerti
Sajak apakah yang tinggal sendiri
Sajak yang ada mendengar bumi, bumi yang letih
Sajak yang ada mendengar hidup, hidup menagih
Sajak yang ada melihat abad, abad yang bersih
Bagaikan bulan yang timbul: memutih-putih

Puisi Sapardi Djoko Damono

AIR SELOKAN
"Air yang di selokan itu mengalir dari rumah sakit," katamu pada suatu hari minggu pagi. Waktu itu kau berjalanjalan bersama istrimu yang sedang mengandung
-- ia hampir muntah karena bau sengit itu.

Dulu di selokan itu mengalir pula air yang digunakan untuk memandikanmu waktu kau lahir: campur darah dan amis baunya. Kabarnya tadi sore mereka sibuk memandikan mayat di kamar mati.
Senja ini ketika dua orang anak sedang berak di tepi selokan itu, salah seorang tiba-tiba berdiri dan menuding sesuatu:
"Hore, ada nyawa lagi terapung-apung di air itu -- alangkah indahnya!"
Tapi kau tak mungkin lagi menyaksikan yang berkilau-kilauan hanyut di permukaan air yang anyir baunya itu, sayang sekali.
Perahu Kertas,


AKU INGIN
Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
dengan kata yang tak sempat diucapkan
kayu kepada api yang menjadikannya abu
Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
dengan isyarat yang tak sempat disampaikan
awan kepada hujan yang menjadikannya tiada

Selasa, 29 Maret 2011

Puisi Abdul Hadi WM

LAGU DALAM HUJAN
Merdunya dan merdunya
Suara hujan
Gempita pohon-pohonan
Menerima serakan
Sayap-sayap burung
Merdunya dan merdunya
Seakan busukan akar pohonan
Menggema dan segar kembali

Seakan busukan daungladiola
Menyanyi dalam langsai-langsai pelangi biru
Memintas-mintas cuaca
Merdunya dan merdunya
Nasib yang bergerak
Jiwa yang bertempur
Gempita bumi
Menerima hembusan
Sayap-sayap kata
Ya, seakan merdunya suara hujan
Yang telah menjadi kebiasaan alam
Bergerak atau bergolak dan bangkit
Berubah dan berpindah dalam pendaran warna-warni
Melintas dan melewat dalam dingin dan panas
Merdunya dan merdunya
Merdu yang tiada bosan-bosannya
Melulung dan tiada kembali
Seakan-akan memijar api


AMSAL SEEKOR KUCING
Selalu tak dapat kulihat kau dengan jelas
Padahal aku tidak rabun dan kau tidak pula bercadar
Hanya setiap hal memang harus diwajarkan bagai semula:
Selera makan, gerak tangan, gaya percakapan, bayang-bayang kursi
Bahkan langkah-langkah kehidupan menuju mati

Biarlah kata-kataku ini dan apa yang dipercakapkan
bertemu bagai dua mulut yang lagi berciuman
Dan seperti seekor kucing yang mengintai mangsanya di dahan pohon
Menginginkan burung intaiannya bukan melulu kiasan

Puisi Sutardji Calzoum Bachri

IDULFITRI
lihat
pedang taubat ini menebas hati
dari masa lampau yang lalai dan sia-sia
telah kulaksanakan puasa Ramadhanku
telah kutegakkan shalat malam
telah kuuntai wirid tiap malam dan siang
telah kuhamparkan sajadahku
yang tak hanya menuju Ka'bah
tapi ikhlas mencapai hati dan darah
dan di malam Qadar aku pun menunggu

namun tak bersua Jibril atau malaikat lainnya
maka aku girang-girangkan hatiku
ngebut
di jalan lurus
jangan Kau depakkan lagi aku ke trotoar
tempat usia lalaiku menenggak arak di warung dunia
kini biarkan aku menenggak marak cahayaMu
di ujung sisa usia
O usia lalai yang berkepanjangan
yang menyebabkan aku kini ngebut di jalan lurus
Tuhan jangan Kau depakkan lagi aku di trotoar
tempat dulu aku menenggak arak di warung dunia
maka pagi ini
kukenakan zirah la ilaha illallah
aku pakai sepau siratul mustaqiem
akupun lurus menuju lapangan tempat shalat ied
aku bawa masjid dalam diriku
kuhamparkan di lapangan
kutegakkan shalat
dan kurayakan kelahiran kembali
di sana



ANA BUNGA
Oh kau Sayangku duapuluh tujuh indera
aku bilang
tardji rindu yang kau wudhukkan setiap malam
belumlah cukup untuk menggerakkan Dia datang
namun si bandel tardji ini sekali merindu
takkan pernah melupa
takkan kulupa janjiNya
bagi yang merindu insyaAllah kan ada mustajab cinta
maka walau tak jumpa denganNya
shalat dan zikir yang telah membasuh jiwaku ini
semakin mendekatkan aku padaNya
dan semakin dekat
semakin terasa kesiasiaan pada usia lama yang lalau berlupa
O lihat Tuhan kini si bekas pemabuk ini
Kucinta kau
Aku ke kau ke kau aku
Akulah kauku kaulah ku ke kau
Kita ?
Biarlah antara kita saja
Siapa kau, perempuan tak terbilang
Kau
Kau ? - orang bilang kau - biarkan orang bilang
Orang tak tahu menara gereja menjulang
Kaki, kau pakaikan topi, engkau jalan
dengan kedua
tanganmu
Amboi! Rok birumu putih gratis melipat-lipat
Ana merah bunga aku cinta kau, dalam merahmu aku
cinta kau
Merahcintaku Ana Bunga, merahcintaku pada kau
Kau yang pada kau yang milikkau aku yang padaku
kau yang padaku
Kita?
Dalam dingin api mari kita bicara
Ana Bunga, Ana Merah Bunga, mereka bilang apa?
Sayembara :
Ana Bunga buahku
Merah Ana Bunga
Warna apa aku?
Biru warna rambut kuningmu
Merah warna dalam buah hijaumu
Apa kau tahu Ana Bunga, apa sudah kau tahu?
Orang dapat membaca kau dari belakang
Dan kau yang paling agung dari segala
Kau yang dari belakang, yang dari depan
A-N-A
Tetes lilin mengusapusap punggungku
Ana Bunga
Oh hewan meleleh
Aku cinta yang padakau!

puisi taufiq ismail

KABUT DALAM HUJAN JANUARI
Saat angin dan kabut Januari
Berkejaran di atas atap-atap kota
Serasa murid-muridku untukku bernyanyi
‘Hari ini Nestapa Menyapa’
adakah dingin dlam bunyi senja
yang bernapas pelan dalan gugur daunan
sampai padamu warna-warna serupa
dan menyuarakan angin yang gemetaran
di sini aku duduk, jendela kabut berjalin dingin
numga di luar musimnya ungu mengangguk-angguk
kujamah hati kamar ini dan merasa sangat inginberkata,
di sini kau mestinya merenda duduk
dan deru di langit yang tak lagi biru
berdenyar-denyar dalam gugusan badai
adakah itu yang kauberi nama rindu
berpijar-pijar namun tak sempat sampai
adalah jalanan yang masuk dalam malam
bertebaran serta basah daun berjuta
napas kanut antara desah pohonan
menyapu lenggang lewaat jendela

TENTANG SERSAN NISCHOLIS
Seorang sersan
Kakinya hilang
Sepuluh tahun yang lalu
Setiap siang
Terdengar siulnya
Di bengkel arloji
Sekali datang
Teman-temannya
Sudah orang resmi
Dengan senyum ditolaknya
Kartu anggota
Bekas pejuang
Sersan Nurcholis
Kakinya hilang
Di zaman revolusi
Setiap siang terdengar siulnya
Di bengkel arloji

Template by : kendhin x-template.blogspot.com